Aksi jalan kaki dari kawasan Candi Gedongsongo menuju kantor Gubernur Jawa Tengah di Jalan Pahlawan, Kota Semarang, menjadi penanda baru penolakan sebagian warga terhadap rencana geotermal di Gunung Ungaran dan sejumlah titik lain di Jawa Tengah. Rombongan aksi tiba di kawasan kantor gubernur pada Kamis, 24 September 2026.
Salah satu peserta aksi, Lilik Yulianto, menempuh perjalanan dari Kabupaten Semarang sejak Selasa malam, 22 September 2026. Pria asal Blora berusia 37 tahun itu kemudian melanjutkan langkahnya dengan berjalan mundur dari depan Mapolda Jateng menuju kantor gubernur, berjarak sekitar 500 meter.
Aksi Lilik tidak hanya membawa pesan protes, tetapi juga dibangun dengan simbol-simbol visual yang kuat. Ia mengenakan kain goni berwarna cokelat pekat dan caping petani, memasang lonceng di kaki, serta membawa poster berisi penolakan terhadap geotermal di Jawa Tengah. Di tangan lainnya, ia membawa poster bernada kritik yang ditujukan kepada Gubernur Jawa Tengah Ahmad Luthfi.
Lilik menyebut aksi jalan mundur itu sebagai pesan agar pemerintah provinsi tidak sekadar melempar tanggung jawab. Ia mengaitkan protes tersebut dengan harapan agar slogan “ngopeni” dan “nglakoni” benar-benar diwujudkan, termasuk dalam merawat alam dan mendengar kekhawatiran warga atas proyek panas bumi.
Selama perjalanan, Lilik menempuh sekitar 37 kilometer dan hanya beristirahat secara terbatas. Ia menyatakan mendapat dukungan warga di sepanjang jalur, termasuk tempat singgah untuk beristirahat. Aksi semacam ini bukan hal baru baginya; pada 2021, ia pernah berjalan kaki dari Rembang menuju Jakarta sebagai protes atas persoalan limbah B3 di Sluke, Rembang.
Koordinator Aksi Jateng Guyub, Joko Prianto, mengatakan penolakan geotermal kali ini ditandai dua gerakan serentak pada 22 September 2026, yakni aksi lari dari Gunung Lawu dan aksi jalan kaki dari Gunung Ungaran. Menurutnya, peserta dari sejumlah daerah ikut bergabung, antara lain Rembang, Pati, Kudus, Kendal, Batang, Blora, Grobogan, Wonogiri, Kabupaten Semarang, dan Kota Semarang.
Dinas ESDM Jawa Tengah menyatakan tiga Wilayah Kerja Panas Bumi di Ungaran, Telomoyo, dan Lawu belum memiliki kegiatan lapangan. Kepala Bidang Energi Baru Terbarukan dan Konservasi Energi Dinas ESDM Jateng Dwi Suryono menyebut kewenangan proyek geotermal berada pada pemerintah pusat melalui Kementerian ESDM, sementara sebelumnya telah ada agenda sosialisasi di Ungaran dan diskusi akademik di Undip pada 17 September 2026. (air/lar)