Bank Rakyat Indonesia (BRI) kembali menegaskan komitmennya sebagai tulang punggung perekonomian kerakyatan. Per Agustus 2026, realisasi kredit UMKM BRI menyentuh Rp 1.235 triliun, naik 12,3% dibanding periode sama tahun lalu.
Pertumbuhan didorong oleh ekspansi jaringan BRILink, digitalisasi melalui BRISPOT Micro, serta program pendampingan non-keuangan bagi pelaku usaha mikro. Distribusi kredit merata mencakup sektor dagang, pertanian, industri pengolahan, hingga jasa.
"Kami tidak hanya menyediakan dana, tapi juga membangun ekosistem agar UMKM tumbuh berkelanjutan," ujar Direktur Micro BRI, Amam Sukriyanto, dalam konferensi pers virtual, Jumat (25/9).
Di Jawa Tengah, portofolio micro BRI tumbuh 11,8% YoY mencapai Rp 142 triliun. Nasabah baru didominasi pedagang kecil, petani padi, dan pengrajin batik di wilayah Pekalongan, Solo, dan Semarang.
Program BRILian UMKM menyediakan pelatihan digital marketing, sertifikasi halal, hingga akses pasar modern. Hingga semester I 2026, sudah 48.000 pelaku UMKM Jateng terlatih.
Analis Bank Indonesia Jateng, Agus Santoso, menilai ekspansi kredit micro BRI sejalan dengan arah kebijakan makroprudensial. "Kredit produktif ke UMKM berdampak langsung pada daya beli masyarakat dan penyerapan tenaga kerja," kata dia.
Risiko kredit micro BRI terkendali dengan NPL micro 2,81% per Juni 2026, di bawah batas regulator 5%. Kolektibilitas dijaga lewat monitoring real-time via BRISPOT dan tim account officer lapangan.
Ke depan, BRI menargetkan kredit UMKM nasional Rp 1.400 triliun akhir 2026. Fokus ekspansi ke wilayah 3T (terdepan, terluar, tertinggal) serta perkuan sinergi dengan Pemda untuk program UMKM unggulan daerah. (tem/lar)