Perekonomian Jawa Tengah tumbuh 5,71 persen pada triwulan II 2026, melampaui pertumbuhan ekonomi nasional yang berada di level 5,29 persen. Capaian itu menempatkan Jawa Tengah sebagai salah satu provinsi dengan pertumbuhan tertinggi di Pulau Jawa, menurut data yang disampaikan Kepala Kantor Wilayah Direktorat Jenderal Perbendaharaan Provinsi Jawa Tengah, Bayu Andy Prasetya, Kamis (1/10/2026).
Stabilitas harga ikut mendukung ketahanan ekonomi daerah. Inflasi Jawa Tengah pada Agustus 2026 tercatat 3,08 persen secara tahunan, lebih rendah dari inflasi nasional sebesar 3,19 persen. Indikator kesejahteraan juga menunjukkan perbaikan. Tingkat Pengangguran Terbuka pada Mei 2026 menyentuh 4,30 persen, di bawah angka nasional 4,65 persen. Indeks Pembangunan Manusia (IPM) mencapai 74,77 pada 2025, sementara tingkat kemiskinan pada Maret 2026 turun ke 9,21 persen.
Di balik angka-angka positif itu, tekanan pada sektor manufaktur terus berlanjut. PMI Manufaktur Indonesia pada Agustus 2026 tercatat 49,8, masih berada di zona kontraksi. Bayu menegaskan perlunya mewaspadai dinamika ekonomi dan geopolitik global yang berpotensi mengganggu harga komoditas serta rantai pasok dunia.
Sisi fiskal menunjukkan ruang gerak. APBN Regional Jawa Tengah hingga 31 Agustus 2026 mencatat surplus Rp11,22 triliun. Realisasi Pendapatan Negara mencapai Rp80,72 triliun atau 65,19 persen dari target, naik 14,46 persen dari periode sama tahun lalu. Pendapatan itu berasal dari pajak Rp34,83 triliun, kepabeanan dan cukai Rp40,25 triliun, serta PNBP Rp5,64 triliun. Belanja Negara terealisasi Rp69,50 triliun (69,20 persen dari pagu).
Di taraf daerah, Pendapatan Daerah terealisasi Rp70,35 triliun (68,56 persen target), namun terkontraksi 7,12 persen year-on-year. Belanja Daerah mencapai Rp57,33 triliun atau 52,20 persen dari target. Pemerintah daerah terus didorong mempercepat realisasi belanja untuk mendorong aktivitas ekonomi di kuartal akhir. (nau/lar)