Politik

Guci Sepi Pengunjung, Sembilan Bulan Sunarti seperti Puasa

  • Sejak banjir bandang menghancurkan Daya Tarik Wisata (DTW) Guci pada akhir 2025 dan awal 2026, kehidupan pedagang di kawasan Pancuran 13, Kecamatan Bumijawa, Kabupaten Tegal, tak pernah kembali seperti semula.
  • Banjir bandang itu meluluhlantakkan Pancuran 13 dan Pancuran 5, dua ikon utama wisata air panas Guci.
  • Pada masa gemilang, Sunarti bisa menghabiskan hingga empat ember adonan gorengan per hari.
  • Selain lapak gorengan, Sunarti yang berasal dari Dukuh Pekandangan, Desa Rembul, Kecamatan Bojong, juga mengelola warung bakso di kawasan yang sama.

Sejak banjir bandang menghancurkan Daya Tarik Wisata (DTW) Guci pada akhir 2025 dan awal 2026, kehidupan pedagang di kawasan Pancuran 13, Kecamatan Bumijawa, Kabupaten Tegal, tak pernah kembali seperti semula. Sunarti, seorang pedagang gorengan yang sudah 15 tahun membuka lapak di area itu, menggambarkan kondisi kini dengan satu frasa: "seperti puasa" — sudah sembilan bulan penghasilan merosot drastis.

Banjir bandang itu meluluhlantakkan Pancuran 13 dan Pancuran 5, dua ikon utama wisata air panas Guci. Pasca bencana, aliran pengunjung yang biasanya ramai pada akhir pekan dan libur panjang hampir terhenti total. Banyak pedagang pilihan lain memilih menutup lapak karena tak ada pembeli, tapi Sunarti bertahan. Ia tetap membuka warung gorengan khas Guci — bakwan, tahu, tempe ukuran jumbo — dilengkapi lontong, pop mie, pecel, rujak, serta minuman teh, kopi, dan botol kemasan.

Pada masa gemilang, Sunarti bisa menghabiskan hingga empat ember adonan gorengan per hari. Kini, habis dua ember saja sudah dianggap bagus, dan tak jarang hanya satu ember yang terjual sepanjang hari. "Kondisi memang sepi terus, tapi mau bagaimana lagi karena mata pencaharian utama saya berjualan di Wisata Guci ini," ujarnya dengan nada pasrah namun tetap gigih.

Selain lapak gorengan, Sunarti yang berasal dari Dukuh Pekandangan, Desa Rembul, Kecamatan Bojong, juga mengelola warung bakso di kawasan yang sama. Dua usaha itu jadi tulang punggung ekonomi keluarganya. Ia mengakui belakangan ini pengunjung mulai terlihat kembali, namun mayoritas hanya berkunjung tanpa berbelanja — dampak daya beli masyarakat yang juga tergerus.

Pemerintah daerah Kabupaten Tegal dan pihak pengelola DTW Guci terus berupaya membangun kembali fasilitas wisata, termasuk normalisasi Pancuran 13 dan 5. Namun proses rehabiltas butuh waktu dan dana besar. Sementara itu, pedagang kecil seperti Sunarti hanya bisa menunggu dan berdoa agar wisatawan kembali ramai, mengembalikan siklus ekonomi yang selama ini menopang hidup ratusan keluarga di kaki Gunung Slamet. (nau/lar)

← Kembali ke beranda