Gagasan menjadikan Masjid Istiqlal sebagai titik berangkat jaringan spiritual global kembali menguat melalui tulisan Rektor Universitas Islam Negeri Prof. K.H. Saifuddin Zuhri (UIN Saizu) Purwokerto, Prof. Dr. H. Ridwan, M.Ag. Dalam pandangannya, Istiqlal memiliki modal sejarah, sosial, dan spiritual untuk mengirim pesan perdamaian dari Indonesia ke masyarakat dunia.
Tulisan yang dipublikasikan pada Sabtu, 26 September 2026 itu menempatkan masjid bukan hanya sebagai ruang ibadah, melainkan juga sebagai pusat gerakan moral, intelektual, sosial, dan kemanusiaan. Ridwan menilai sejarah Islam menunjukkan masjid kerap menjadi tempat bertemunya spiritualitas dengan persoalan nyata masyarakat, mulai dari pendidikan, solidaritas sosial, musyawarah, hingga pembentukan gagasan peradaban.
Dalam konteks Indonesia, Masjid Istiqlal dinilai memiliki posisi khusus karena tidak hanya besar secara fisik, tetapi juga memuat memori kebangsaan. Nama Istiqlal yang berarti kemerdekaan dipandang membawa pesan lebih luas, yakni pembebasan manusia dari kebencian, fanatisme destruktif, ketidakadilan, dan kekerasan yang merendahkan martabat kemanusiaan.
Ridwan juga menyoroti paradoks kehidupan global saat ini. Teknologi membuat manusia semakin terhubung, tetapi konflik, prasangka, kekerasan, dan fragmentasi sosial tetap muncul di banyak tempat. Karena itu, menurutnya, dunia tidak cukup hanya membangun jaringan ekonomi, teknologi, politik, dan informasi, tetapi juga membutuhkan jaringan spiritual yang menumbuhkan kepercayaan, solidaritas, serta jembatan antarkomunitas.
Dalam gagasan tersebut, para imam besar atau Grand Imam dunia disebut memiliki peran strategis sebagai pembawa pesan perdamaian. Otoritas keagamaan tidak hanya dipahami sebagai kemampuan menjelaskan teks agama, tetapi juga tanggung jawab moral untuk menjaga kehidupan manusia dan memperkuat martabat kemanusiaan di tengah perbedaan bangsa, budaya, dan tradisi keilmuan.
Bagi Jawa Tengah, gagasan ini juga memperlihatkan kontribusi akademisi daerah dalam percakapan keislaman dan perdamaian global. Dari Purwokerto, UIN Saizu ikut menawarkan cara pandang bahwa Istiqlal dapat menjadi ruang perjumpaan dunia, tempat gagasan kemanusiaan dipertukarkan, dan mimbar-mimbar masjid menjadi mata rantai penyebaran budaya damai. (aim/lar)