Kecakar hutan dan lahan (karhutla) di Jawa Tengah terus meningkat, dengan lahan terbakar mencapai 520 hektar dan menimbulkan kerugian material sekitar 2,4 miliar rupiah. Data ini diperoleh dari lapangan oleh Badan Penanggulangan Bencana Daerah (BPBD) provinsi, yang mencatat peningkatan signifikan dibandingkan bulan sebelumnya.
Penyebab karhutla biasanya terkait dengan aktivitas manusia seperti pembukaan lahan untuk pertanian atau perkebunan, serta kondisi cuaca ekstrem yang membuat vegetasi mudah terbakar. Pemerintah setempat telah mengirimkan tim gabungan untuk melakukan pemadaman dan mencegah penyebaran lebih luas.
Selain kerugian material, karhutla juga menimbau dampak pada kualitas udara dan kesehatan masyarakat, terutama untuk rentan seperti anak-anak dan lansia. Udara yang berkonten partikel asap dapat menyebabkan gangguan pernapasan dan meningkatkan risiko penyakit saluran napas.
Tim penanggulangan bencana mencoba menggunakan helikopter waterbombing dan personnel darat untuk memadam api, tetapi keterbatasan akses ke area lahan terpencil menjadi hambatan. Masyarakat sekitar juga diajukan untuk tidak membakar limbah dan melaporkan asap secara dini.
Pemerintah Provinsi Jawa Tengah menunjuk dana darurat untuk penanganan karhutla dan meminta dukungan dari pusat untuk penyelenggaraan early warning system serta pemulahan lahan setelah api pada dasarnya sudah dapat dikontrol.
Upaya pencegahan dilakukan melalui sosialisasi kepada petani tentang teknik pembukaan lahan yang berkelanjutan dan pembatasan pembukaan lahan selama musim kemarau. Selain itu, dilakukan patroli gabungan bersama TNI dan Polri untuk menyadari masyarakat akan bahasan pembakaran terbuka.
Dengan adanya upaya penanganan yang terkoordinasi, pemerintah berharap dapat menurunkan lahan terbakar di bulan depan dan meminimalkan kerugian ekonomi serta ekosistem yang berada di Jawa Tengah. (wm/lar)