Lingkungan

Ketika Membaca dan Berhitung Belum Berarti Memahami

  • Banyak murid sekolah dasar di Indonesia mampu membaca halaman buku dengan lancar dan mengerjakan soal perkalian, namun ketika diminta menjelaskan gagasan utama bacaan atau memperkirakan uang kembalian, mereka ragu.
  • Literasi bukan sekadar melafalkan kalimat tanpa terbata-bata, begitu pula numerasi bukan hanya menghafal rumus atau berhitung cepat.
  • Data Rapor Pendidikan 2025 dari Kemendikdasmen mencatat hanya 65,66 persen murid SD mencapai kompetensi minimum literasi, dan 59,45 persen untuk numerasi.
  • Secara keseluruhan, OECD menyatakan sekitar enam dari sepuluh murid Indonesia belum mencapai kompetensi minimum atau level 2.

Banyak murid sekolah dasar di Indonesia mampu membaca halaman buku dengan lancar dan mengerjakan soal perkalian, namun ketika diminta menjelaskan gagasan utama bacaan atau memperkirakan uang kembalian, mereka ragu. Fenomena ini dibuka Hengki dari System Strengthening Unit Tanoto Foundation dalam opini terbarunya, menyoroti kesenjangan fundamental antara kemampuan teknis dengan pemahaman mendalam.

Literasi bukan sekadar melafalkan kalimat tanpa terbata-bata, begitu pula numerasi bukan hanya menghafal rumus atau berhitung cepat. Literasi memungkinkan anak memahami informasi, menemukan makna, menilai kebenaran, dan menyampaikan gagasan. Numerasi memberdayakan mereka menggunakan angka, ukuran, data, dan perkiraan untuk mengambil keputusan. Keduanya menjadi landasan bernalar, memecahkan masalah, dan belajar mandiri — keterampilan yang semakin krusial di era informasi digital yang meluap.

Data Rapor Pendidikan 2025 dari Kemendikdasmen mencatat hanya 65,66 persen murid SD mencapai kompetensi minimum literasi, dan 59,45 persen untuk numerasi. Kedua capaian itu berada di kategori sedang, artinya lebih dari sepertiga murid belum memenuhi standar literasi dan empat dari sepuluh murid gagal di numerasi. Kondisi serupa terlihat di PISA 2025: skor membaca naik 7 poin ke 365 dan sains naik 6 poin ke 389, namun matematika justru turun 2 poin ke 364. Rata-rata negara OECD berkisar 461–482, menempatkan Indonesia tertinggal hampir 100 poin dan posisi terendah di antara negara ASEAN peserta.

Secara keseluruhan, OECD menyatakan sekitar enam dari sepuluh murid Indonesia belum mencapai kompetensi minimum atau level 2. Bank Dunia melalui laporan Learning Poverty 2022 memperkirakan 53 persen anak Indonesia akhir SD belum mampu membaca dan memahami teks sederhana. Ketika fondasi ini rapuh, anak akan kesulitan di hampir semua mata pelajaran — dari memahami soal matematika, petunjuk percobaan, hingga menilai informasi yang beredar di ruang digital.

Tantangan tidak dialami merata. Anak yang tumbuh dengan akses buku, internet, dan pendampingan belajar memiliki keuntungan dibandingkan mereka yang belajar dengan bahan terbatas, kelas padat, atau dukungan keluarga minim. Sekolah masih kerap disibukkan mengejar target menyelesaikan materi, membuat pembelajaran berubah menjadi perlombaan menyampaikan isi buku bukannya memfasilitasi pemahaman.

Mendikdasmen Abdul Mu'ti menargetkan perbaikan signifikan dalam tiga tahun ke depan, fokus pada siswa kelas 1–3 melalui pendekatan pedagogis yang tepat, kebiasaan membaca, dan penguatan numerasi sejak dini. Kolaborasi Kemendikdasmen dengan Tanoto Foundation, Gates Foundation, UNICEF, dan enam pemerintah daerah — termasuk Kabupaten Tegal di Jawa Tengah — ditargetkan menjangkau 500 sekolah dasar negeri, 1.500 guru kelas awal dan kepala sekolah, serta 45.000 siswa hingga 2029. Angka dalam laporan pendidikan semestinya mendorong pemeriksaan pengalaman belajar harian anak, bukan sekadar mengejar statistik. (bay/lar)

← Kembali ke beranda