KH Isa Mufti dikenal sebagai generasi ketiga yang menjalani pesantren Ma'hadut Tholabah di Jawa Tengah. Dengan latar belakang pendidikan yang solid, ia terus memajukan nilai-nilai Islam melalui pengajaran yang meliputi pengkajian Al-Qur'an, Hadis, serta ilmu tasawuf. Pesantren ini bukan hanya tempat belajar agama, tetapi juga pusat kegiatan kemasyarakatan yang berfokus pada pemberdayaan masyarakat lokal.
Menurut sumber dari suaramerdeka.com, KH Isa Mufti sering mengorganisasi studi kelompok, pengajian umum, dan pelatihan keterampilan bagi remaja dan dewasa di sekitar pesantren. Program-program ini bertujuan meningkatkan literasi religius serta kemampuan ekonomi melalui usaha produktif seperti pertanian organik dan kerajinan tangan.
Selain pesantren, ia juga aktif dalam forum lembaga kemasyarakatan Jawa Tengah, berpartisipasi dalam diskusi tentang harmoni antarumat dan toleransi beragama. Pendekatan inklusif ini diakui oleh tokoh agama dan pemset setempat sebagai upaya memperkuat koheusi sosial di tengah keberagaman budaya di provinsi.
Dengan pendekatan yang menggabungkan keagamaan dan kemasyarakatan, KH Isa Mufti berharap dapat menciptakan generasi muda yang tidak hanya berakhlak mulia tetapi juga mampu kontribusi nyata dalam pembangunan desa. Ia menantang para santri untuk tidak berhenti hanya pada ritual ibadah, tetapi juga menerapkan nilai-nilai kepedulian terhadap sesama dan lingkungan.
Namun, tantangan seperti keterbatasan fasilitas dan sumber daya tetap menjadi hambatan dalam memperluas jangkauan program pesantren. KH Isa Mufti berharap dapat mendapatkan dukungan dari pemerintah daerah dan filantropi untuk membangun fasilitas belajar yang lebih memadai serta memperluas akses ke teknologi informasi bagi santri. (wm/lar)