Keputusan untuk meninggalkan bisnis yang sudah lama dijalani tidak pernah mudah. Aditya A Pradana merasakan dilema itu saat memutuskan berhenti menjadi agen minuman yang memasok kebutuhan sejumlah tempat hiburan di kawasan Semarang. Dari bisnis yang melibatkan minuman beralkohol untuk lokalisasi, ia memilih jalan berbeda dengan menekuni produksi kusen berbahan unplasticized polyvinyl chloride (UPVC).
Perjalanan barunya dimulai pada 2016 di Jalan Untung Surapati, Semarang. Awalnya usaha ini hanya beroperasi dari tempat yang sederhana, memanfaatkan lahan yang tersedia. Aditya mengaku keputusan hijrah itu muncul dari keinginan untuk meninggalkan hal yang menurutnya kurang baik dan kurang pas dengan nilai yang dianutnya.
Hampir satu dekade berlalu, usaha produksi kusen UPVC yang dirintis Aditya perlahan berkembang. Pesanan kini mulai datang dari berbagai daerah di Indonesia, bukan hanya dari kawasan Semarang saja. Dari bengkel yang awalnya kecil di Wonosobo, produk UPVC buatannya telah menjangkau pasar yang lebih luas.
Aditya mengawali kariernya sebagai agen minuman di wilayah Semarang Barat dan Semarang Utara. Kala itu ia memasok berbagai jenis minuman, mulai dari minuman ringan hingga minuman beralkohol untuk kebutuhan tempat hiburan. "Dulu saya megang agen minuman, Mas. Minuman di Semarang Barat, Semarang Utara untuk soft drink-nya, ada minuman miras juga untuk di lokalisasi ini," ujar Aditya saat diwawancarai.
Sangat berbeda dengan masa lalu, kini aktivitas sehari-harinya dipenuhi dengan proses produksi kusen PVC. "Kita produksi PVC saja, memanfaatkan tempat yang ada," kata pria yang akrab dipanggil Adit itu sambil menunjuk area bengkelnya. Keberhasilan usaha ini membuktikan bahwa perubahan arah bisnis, meski berat di awal, bisa membuahkan hasil yang memuaskan ketika dikelola dengan serius dan konsisten. (rak/lar)