Kura-kura Sulcata atau African spurred tortoise (Centrochelys sulcata) kini semakin diminati sebagai hewan peliharaan eksotis di Indonesia. Bentuk unik, sifat jinak, dan kemampuan tumbuh mencapai ukuran raksasa menjadikannya daya tarik tersendiri. Namun, di balik keseruan memelihara reptil ini, tersimpan tanggung jawab hukum dan kesejahteraan hewan yang tidak boleh diabaikan.
Secara biologis, Sulcata termasuk herbivora yang membutuhkan pakan tinggi serat, paparan sinar UVB, suhu tubuh yang teratur, serta hidrasi memadai. Ketika baru lahir, ukurannya hanya beberapa sentimeter. Namun seiring pertumbuhan, hewan ini dapat mencapai panjang puluhan sentimeter dengan bobot puluhan kilogram. Perubahan drastis ini berarti kebutuhan ruang, fasilitas, dan biaya perawatan akan melonjak signifikan — hal yang sering terlewat saat pembelian impulsif.
Dari perspektif hukum, pemeliharaan satwa eksotis di Indonesia diatur dalam Peraturan Pemerintah Nomor 7 Tahun 1999 tentang Pengawetan Jenis Tumbuhan dan Satwa serta Peraturan Menteri Lingkungan Hidup dan Kehutanan Nomor P.106 Tahun 2018. Meskipun Sulcata tidak termasuk satwa dilindungi, perpindahan, perdagangan, dan pemeliharaannya tetap tunduk pada ketentuan kesejahteraan hewan (Animal Welfare) serta larangan perdagangan liar tanpa izin. Pemilik berpotensi melanggar Pasal 302 KUHP atau UU Kesejahteraan Hewan jika terbukti mengabaikan kebutuhan dasar hewan hingga mengalami penderitaan.
Praktik perawatan yang benar dimulai dari penyiapan kandang. Bayi Sulcata cocok diletakkan di kandang indoor agar suhu, kelembapan, dan pencahayaan UVB termonitor. Area basking disarankan 38–43 derajat Celsius dengan zona lebih sejuk di sisi lain. Kandang harus memiliki pagar dalam yang kuat karena Sulcata memiliki naluri menggali. Saat dewasa, transisi ke area outdoor luasan wajib disertai tempat berlindung dari cuaca ekstrem dan predator.
Sinar UVB bukan sekadar aksesoris — ia vital untuk sintesis vitamin D3 dan metabolisme kalsium. Tanpa UVB yang memadai, Sulcata berisiko menderita Metabolic Bone Disease (MBD) yang menyebabkan kerangka bengkok, cangkang lemah, dan kematian dini. Pakan utama berupa rumput, sayuran hijau, dan tanaman tinggi serat. Buah dan protein hewani sebaiknya dihindari. Hidrasi dijaga dengan penyediaan air minum serta mandian hangat rutin.
Bagi calon pemilik, langkah pertama bukan membeli hewan, melainkan mempelajari regulasi setempat, menyiapkan fasilitas memadai, serta memastikan akses ke dokter hewan reptil. Pemerintah daerah melalui Dinas Pertanian dan Lingkungan Hidup berwenang mengawasi kepatuhan pemeliharaan. Pelanggaran bisa dikenai sanksi administratif hingga pidana. Memelihara Sulcata adalah komitmen panjang — bisa puluhan tahun — bukan sekadar hobi ses (sin/lar)