Saatsaat kemarau yang berpanjangan menimbulkan tekanan ganda bagi masyarakat agraris di Jawa Tengah. Bukan hanya soal sawah yang kering atau sumur yang menyusut, tapi juga soal bagaimana manusia menata makna di hadapan ketidakpastian alam. Prof Dr Kholid Mawardi, Guru Besar Ilmu Sejarah Kebudayaan Islam UIN Saizu Purwokerto, mengurai pengalaman itu dalam opini terbarunya: Menanti Tetes Hujan Pertama: Antara Takut, Harapan, dan Solidaritas.
Artikel ini menyoroti bagaimana menunggu hujan bukan sekadar mengamati cuaca. Ketika tanah mengeras dan dedaunan layu, masyarakat mulai mencari tanda di langit — awan gelap, angin berbau tanah, kelembaban yang naik. Di sinilah ketakutan dan harapan beradu. Ketakutan atas gagal panen, air bersih sulit didapat, biaya hidup melonjak. Harapan atas tetes hujan pertama yang menjanjikan kelanjutan kehidupan.
Mawardi menarik dua respons kolektif yang tumbuh dari situasi itu: salat istisqa dalam tradisi Islam dan ritual lokal seperti Cowongan serta Pakeong di Banyumas. Keduanya tak perlu disamakan teologis — istisqa adalah ibadah, sedangkan Cowongan dan Pakeong lahir dari pengalaman budaya masyarakat. Namun pada tingkat pengalaman manusia, keduanya hadir sebagai ruang simbolik untuk menata rasa takut, memelihara harapan, dan menguatkan solidaritas.
Perspektif antropologi Clifford Geertz dijadikan landasan: agama sebagai sistem simbol yang membantu manusia memahami dunia. Doa, tembang, benda ritual, dan tindakan kolektif menjadi bahasa untuk menghadapi krisis yang tak sepenuhnya dikendalikan teknis. Kekeringan memperlihatkan keterbatasan manusia — bendungan, irigasi, prakiraan cuaca, semua punya batas. Di titik batas itulah ketidakpastian muncul, dan manusia merespons dengan makna, bukan hanya aksi praktis.
Artikel ini relevan bagi konteks Jawa Tengah yang saat ini menghadapi tantangan perubahan iklim. Pola musim yang bergeser, frekuensi kekeringan yang meningkat, dan kerentanan sektor pertanian menuntut pemahaman yang lebih dalam dari sekadar mitigasi teknis. Kearifan lokal dan solidaritas sosial terbukti jadi modal ketahanan masyarakat jauh sebelum istilah climate adaptation populer.
Sebagai catatan, opini ini dipublikasikan di rubrik Pendidikan Tribun Jateng pada 28 September 2026, ditulis oleh Prof Dr Kholid Mawardi MHum yang juga terlibat dalam program Kampus Desa Mendunia UIN Saizu Purwokerto — program yang menempatkan mahasiswa di tengah masyarakat untuk belajar langsung kearifan lokal dan realitas ekologis di desa-desa Jawa Tengah. (bay/lar)