M Taufiqurahman, 26 tahun, warga Tambakmulyo Semarang, masih tertahan di Rumah Sakit Panti Wilasa Citarum meski kondisi kesehatannya sudah membaik dan dinyatakan boleh pulang oleh dokter. Hal ini terjadi karena keluarga tidak mampu membayar sisa biaya perawatan sebesar Rp4,1 juta. Taufiqurahman diduga menjadi korban pengeroyokan di kawasan Pasar Kobong, Semarang, pada Kamis malam, 1 Oktober 2026.
Kronologi kejadian dimulai ketika Taufiqurahman datang ke lokasi sekitar pukul 23.00 WIB untuk melakukan transaksi cash on delivery (COD) telepon seluler. Menurut keterangan ayahnya, M Yasin, di sekitar lokasi terdapat sekitar empat orang yang diduga dalam kondisi mabuk. Saat korban sedang mencari orang yang akan melakukan transaksi, ia diduga dianggap melihat salah satu orang tersebut sehingga timbul keributan.
Akibat insiden tersebut, Taufiqurahman mengalami luka di bagian kepala dan tubuh hingga harus dirujuk ke rumah sakit. Selama ini perawatan di RS Panti Wilasa Citarum berlangsung, namun biaya yang menumpuk menjadi beban tersendiri bagi keluarga. M Yasin mengaku hanya berpenghasilan sebagai buruh harian lepas sehingga kesulitan mengumpulkan dana Rp4,1 juta tersebut.
Kasus ini telah dilaporkan ke Polsek Semarang Tengah. Kapolsek Semarang Tengah, Kompol Agus Triyono, mengonfirmasi bahwa pihaknya sedang menyelidiki kasus ini dan telah mengamankan beberapa orang sebagai saksi. Pihak kepolisian juga berkoordinasi dengan rumah sakit terkait kondisi korban serta membantu memfasilitasi biaya perawatan melalui program Jaminan Kesehatan Nasional (JKN) yang dimiliki korban.
Meski JKN aktif, terdapat komponen biaya yang tidak tercakup sehingga tetap menjadi tanggungan keluarga. Tim medis RS Panti Wilasa Citarum menyatakan kondisi Taufiqurahman sudah stabil dan tidak ada indikasi luka dalam yang memerlukan perawatan intensif lanjutan. Dokter telah memberikan rekomendasi rawat inap dapat dihentikan, namun prosedur administrasi pembayaran harus diselesaikan terlebih dahulu.
Kelurahan Tambakmulyo melalui Lurahnya, Supriyanto, turut campur membantu mengurus bantuan dana dari program bantuan sosial daerah. Selain itu, warga sekitar juga menggalang dana sukarela untuk meringankan beban keluarga korban. M Yasin berharap proses administrasi cepat selesai agar putranya segera bisa pulang dan melanjutkan pemulihan di rumah.
Kasus pengeroyokan di Pasar Kobong ini menarik perhatian warga sekitar yang mengaku merasa tidak aman saat malam hari. Beberapa pedagang kaki lima mengakui kerap kali terjadi keributan akibat pengaruh minuman keras di area tersebut. Mereka berharap aparat keamanan memperketat patroli malam guna mencegah terjadinya kasus serupa di masa depan. (bay/lar)