Di tengah gelaran Musabaqah Tilawatil Quran (MTQ) Nasional XXXI tahun 2026 yang berlangsung di Jawa Tengah, salah satu cabang lomba yang paling menantang perhatian adalah tafsir Al-Quran berbahasa Inggris. Para pesertanya tidak cukup hanya piawai membaca kitab suci, tetapi juga dituntut mampu menafsirkan kandungan ayat dalam bahasa asing dengan runtut dan mudah dipahami.
Salah seorang peserta lomba mengaku merasa deg-degan menjelang penampilannya. Menurutnya, tantangan terbesar bukan sekadar keberanian tampil di depan publik, melainkan keharusan menguasai tiga bahasa sekaligus. Ia harus memahami teks Al-Quran dalam bahasa Arab, mencerna maknanya secara mendalam, lalu menyampaikan tafsirnya dalam bahasa Indonesia untuk dirinya sendiri sebelum akhirnya menterjemahkan gagasan itu ke bahasa Inggris secara luwes.
Persiapan yang dilakukan peserta bidang tafsir ini tergolong tidak ringan. Sehari-hari ia membagi waktu antara menghafal dan memperdalam materi tafsir, memperkaya kosakata bahasa Inggris, serta berlatih menyusun gagasan menjadi kalimat yang logis. Latihan diulang berkali-kali agar saat tampil nantinya, urutan penyampaian tidak melompat-lompat dan makna ayat tidak berubah.
Keketatan penilaian juga menambah tekanan tersendiri. Para peserta dinilai dari kesesuaian tafsir dengan kaidah keilmuan, ketepatan pilihan kata dalam bahasa Inggris, kelancaran penyampaian, hingga sikap ketika menjawab pertanyaan dari dewan juri. Sedikit saja salah memilih istilah, makna ayat bisa bergeser dari yang seharusnya.
Kendati demikian, para peserta menilai kesempatan berlomba di ajang MTQ Nasional sebagai pengalaman berharga. Selain mengasah kemampuan keagamaan dan bahasa secara bersamaan, mereka juga dapat saling berbagi ilmu dengan utusan dari berbagai daerah di Indonesia. Semangat memakmurkan Al-Quran menjadi pengikat yang menyatukan peserta lintas daerah.
Gelaran MTQ Nasional XXXI di Jawa Tengah sendiri bukan hanya panggung perlombaan. Ajang ini sekaligus menjadi ruang silaturahmi, perayaan keragaman budaya, dan penggerak ekonomi masyarakat sekitar lokasi penyelenggaraan. Kehadiran peserta tafsir Al-Quran berbahasa Inggris yang dituntut menguasai tiga bahasa itu menegaskan bahwa memakmurkan Al-Quran dapat berjalan seiring dengan tuntutan zaman. (wm/lar)