Kematian Muhammad Hasbi Al Aqib, siswa kelas 2 SDN 1 Kebondalem berusia 7 tahun, pada Rabu (30/9/2026) memicu gelombang kemarahan di Pemalang. Ratusan warga berkumpul di depan kantor polisi dan sekolah menuntut keadilan, menduga anak itu menjadi korban bullying fisik oleh tiga kakak kelasnya. Suasana menggara-gara hingga terjadi aksi pembongkaran fasilitas yang diduga terkait dengan pelaku.
Menurut keterangan orang tua korban, gejala sakit pada Hasbi mulai terlihat sejak mid-September. Anak sering meminta uang jajan tambahan dan keluh sakit setelah pulang sekolah. Pada 30 September pukul 16.00 WIB, Hasbi tiba-tiba tidak sadarkan diri di rumah dan segera dibawa ke RSUD M Azhari. Sekitar satu jam kemudian, dokter menyatakan meninggal dunia. Jenazah kemudian diautopsi oleh tim Bidokkes Polda Jawa Tengah untuk mengetahui penyebab medis pasti.
Kasat Reskrim Polres Pemalang, AKP M Faizal Wildan Umar Rela, mengonfirmasi pihaknya telah memeriksa delapan orang saksi, termasuk guru dan kepala sekolah SDN 1 Kebondalem. Polisi juga telah menggelar olah TKP di lingkungan sekolah. Hingga kini, tiga siswa diduga terlibat — dua duduk di kelas 5 dan satu di kelas 6 — namun status mereka sebagai pelaku masih dalam penyidikan mendalam.
Keluarga korban, melalui ayah Nurwandi (43) dan ibu Diah (36), menegaskan akan menempuh jalur hukum. Diah mengaku tidak tahu persis kapan perundungan dimulai, namun ingat anaknya minta uang jajan tambahan sejak 11 September lalu. "Anaknya pendiam karena dirundung. Takut bercerita," ucapnya di rumah duka. Keluarga berharap pelaku mendapat hukuman setimpal agar memberikan efek jera.
Wakil Menteri Pendidikan Dasar dan Menengah (Wamendikdasmen) turut menyuarakan ke prihatin, meminta pihak sekolah tidak menutupi kasus ini. Ia menekankan perlunya transparansi penanganan bullying di lingkungan pendidikan. Sementara Pemerintah Kabupaten Pemalang melalui Dinas Pendidikan juga menggelar deklarasi anti-bullying guna mencegah kejadian serupa di masa depan.
Komunitas pemuda dan organisasi massa setempat turut berpartisipasi dalam aksi solidaritas. Banyak yang membawa spanduk "Stop Bullying" dan "Keadilan untuk Hasbi". Aksi demo yang awalnya tertib berujung pada kerusuhan saat sejumlah massa mencoba memasuki area sekolah dan kantor polisi. Personel gabungan Polisi dan TNI dikerahkan untuk mengamankan titik-titik vital.
Autopsi jenazah masih berlangsung dan hasilnya dinantikan sebagai bukti kunci. Polres Pemalang menegaskan akan mengusut tuntas tanpa memihak. Kasus ini menyoroti darurat bullying di sekolah dasar yang selama ini sering dianggap remeh. Masyarakat menunggu kejelasan hukum sekaligus reformasi sistem perlindungan anak di sat (aim/lar)