PATI — Suasana GOR Rajawali, Kabupaten Pati, terasa lebih riuh dari biasanya pada akhir pekan ini. Ratusan pemanah cilik dari berbagai kecamatan mengisi会場 untuk mengikuti seleksi calon atlet yang akan mewakili Pati di Kejuaraan Provinsi (Kejurprov) Panahan Jawa Tengah. Antusiasme terpancar dari wajah-wajah mereka yang masih berusia sekolah dasar hingga menengah pertama, meski fasilitas latihan di daerah mereka jauh dari memadai.
Ketua Pengurus Cabang (PC) Perpani Kabupaten Pati, Sugiyanto, mengatakan seleksi kali ini diikuti oleh 120 peserta putra dan 95 peserta putri. "Jumlah peserta melonjak signifikan dibanding tahun lalu yang hanya sekitar 150 orang. Ini menunjukkan minat masyarakat terhadap olahraga panahan mulai tumbuh, apalagi setelah prestasi atlet Indonesia di pesta olahraga multigaya," ucapnya saat ditemui di pinggir lapangan, Minggu (28/9/2026).
Sarana jadi kendala klasik. Banyak peserta yang membawa busur panah pinjaman dari sekolah atau sewa harian karena harganya yang relatif mahal. "Busur standar kompetisi berkisar Rp 3–5 juta, sementara anak-anak di sini rata-rata dari keluarga petani atau buruh tani. Kami berusaha menyediakan alat pinjaman dari dana binaan Perpani, tapi jumlahnya terbatas," tutur Sugiyanto.
Di tengah keterbatasan, semangat anak-anak justru tak terpadamkan. Siti Nurhaliza (12), peserta dari Kecamatan Winong, mengaku berlatih mandiri di halaman rumah menggunakan busur buatan sendiri dari bambu. "Setiap sore saya latihan menembak target dari kardus. Pak guru di sekolah kadang bikinkan target dari ban bekas. Saya ingin ke Kejurprov supaya bisa lihat atlet senior dekat-dekat," ucap gadis berkerudung itu sambil memegang busur pinjaman panitia.
Pelatih muda yang turut mendampingi, Dwi Cahyo, menilai bakat dasar cukup terlihat meski teknik belum baku. "Formasi badan dan konsentrasi anak-anak ini bagus untuk usia mereka. Yang perlu diperbaiki hanya konsistensi anchor point dan follow-through. Kalau dibimbing intensif tiga bulan, minimal 20 persen punya peluang lolos ke level nasional," tegasnya.
Pemerintah Kabupaten Pati melalui Dinas Pemuda dan Olahraga (Dispora) mengakui keterbatasan anggaran untuk pembinaan cabang olahraga non-unggulan. Kepala Bidang Prestasi Olahraga Dispora Pati, Bambang Sutrisno, menjanjikan akan mengusulkan penambahan dana alat panahan di APBD tahun depan. "Kita sudah lihat potensi besar. Tahun ini target minimal tiga atlet lolos Porprov. Jangka panjang, ingin punya atlet ke level PON," kata Bambang.
Seleksi berlangsung dua hari dengan sistem ronde ganda jarak 30 meter untuk putra dan 25 meter untuk putri. Panitia akan mengumumkan 12 nama terbaik (6 putra, 6 putri) yang akan mendapat bimbingan intensif selama dua bulan sebelum Kejurprov digelar di Semarang bulan November mendatang. Bagi ratusan pemanah cilik Pati, tiket ke Semarang bukan hanya soal medali — tapi bukti bahwa dari keterbatasan, juara bisa lahir. (nau/lar)