Warga Jawa Tengah memasuki pekan kedua Oktober 2026 dengan kepastian biaya listrik yang belum berubah. Kementerian Energi dan Sumber Daya Mineral (ESDM) melalui PT PLN (Persero) menetapkan tarif tenaga listrik periode 5 hingga 11 Oktober 2026 masih mengacu pada tarif dasar Triwulan IV-2026, tanpa adanya penyesuaian dari periode sebelumnya. Ketetapan ini berlaku serentak untuk pelanggan prabayar maupun pascabayar di seluruh wilayah, termasuk Jawa Tengah.
Bagi pelanggan daya kecil yang menerima subsidi, tarif tetap terjangkau. Golongan R-1/TR 450 VA subsidi dikenakan Rp 415 per kWh, sedangkan 900 VA subsidi Rp 605 per kWh. Kedua golongan ini mencakup rumah tangga miskin, pelanggan sosial, hingga usaha mikro yang menjadi tulang punggung ekonomi kerakyatan di pedesaan dan perkotaan. Stabilitas tarif ini memberikan kepastian bagi keluarga yang mengandalkan listrik untuk kebutuhan sehari-hari — memasak, pencahayaan, hingga pendukung usaha kecil seperti warung dan bengkel.
Di sisi non-subsidi, tarif juga stagnan. Golongan 900 VA Rumah Tangga Mampu (RTM) dikenai Rp 1.352 per kWh, daya 1.300 VA hingga 2.200 VA sebesar Rp 1.444,70 per kWh, sedangkan 3.500 VA ke atas mencapai Rp 1.699,53 per kWh. Bagi pelaku UMKM dan industri kecil di kawasan seperti Solo, Semarang, hingga Pekalongan, ketidakberubahan tarif ini berarti perencanaan biaya operasional bisa berjalan tanpa kejutan. Parameter makro — nilai tukar rupiah, Indonesian Crude Price (ICP), inflasi, dan Harga Batubara Acuan (HBA) — pada realisasi Triwulan IV dinilai belum mendorong kenaikan.
Mekanisme penetapan tarif mengacu pada Peraturan Menteri ESDM Nomor 7 Tahun 2024, yang mewajibkan evaluasi setiap tiga bulan. Evaluasi Triwulan IV ini menggunakan realisasi parameter ekonomi bulan Juli–September 2026. Hasilnya: kurs, ICP, inflasi, dan HBA belum menunjukkan tekanan signifikan yang memerlukan penyesuaian ke atas. PLN sendiri menegaskan bahwa besaran tagihan bulanan tetap dipengaruhi pola pemakaian — semakin hemat, semakin ringan beban biaya.
Di tengah dinamika harga bahan baku global yang terus bergolak, stabilitas tarif listrik Oktober ini jadi napas lega bagi masyarakat. Warga di Jawa Tengah kini bisa memfokuskan perhatian pada efisiensi penggunaan energi di rumah dan usaha, sambil menunggu evaluasi triwulan berikutnya yang akan menentukan arah tarif awal 2027. (air/lar)