Kemaru panjang yang melanda Kabupaten Kudus semakin meluas. Data terbaru dari Badan Penanggulangan Bencana Daerah (BPBD) Kudus menunjukkan tujuh desa di tiga kecamatan kini mengalami kekeringan, mendorong ribuan warga bergantung pada bantuan air bersih.
Kepala BPBD Kudus Eko Hari Djatmiko melalui Kasi Kedaruratan Ahmad Munaji mengonfirmasi penambahan dua desa baru ke daftar terdampak, menambah total menjadi tujuh desa. Sebelumnya tercatat lima desa yakni Glagahwaru (Kecamatan Undaan), Colo (Kecamatan Dawe), serta Setrokalangan, Kedungdowo, dan Mijen (Kecamatan Kaliwungu). Dua desa tambahan ini tersebar di wilayah yang sama, memperparah krisis air di musim kemarau puncak tahun ini.
BPBD mencatat 939 kepala keluarga atau 2.698 jiwa terdampak langsung. Untuk memenuhi kebutuhan dasar, tim telah menyalurkan 1,081 juta liter air bersih melalui 196 tangki dropping sejak Juli lalu. Distribusi rutin difokuskan ke titik-titik yang belum memiliki akses sumur bor atau sumber air alternatif.
Kepala Seksi Kedaruratan BPBD Ahmad Munaji menjelaskan, intensitas dropping disesuaikan dengan kebutuhan masing-masing desa. Desa Glagahwaru yang paling awal terdampak sejak pertengahan Juli kini menunjukkan penurunan permintaan berkat bantuan sumur bor dari Pemkab. Sebalikkan, Desa Mijen yang baru terkena awal September masih memerlukan suplai penuh.
Di tingkat provinsi, BPBD Jawa Tengah mencatat total 33 kabupaten dan kota terdampak kekeringan. Kudus menerima alokasi 323 ribu liter dari total 75,4 juta liter air yang disalurkan ke seluruh Jawa Tengah. Bupati Kudus sebelumnya telah mengajak pejabat dan pimpinan OPD melaksanakan salat istisqa memohon hujan, mengakui krisis air sudah menyentuh garis kritis.
Petani di wilayah terdampak juga mulai mengeluhkan kerusakan tanaman. Data sementara mencatat 111 titik kebakaran hutan dan lahan (karhutla) serta kerugian material diperkirakan Rp 573 juta. Pemkab menyiapkan asuransi gagal panen sebagai mitigasi jangka menengah bagi petani yang paling terdampak.
BPBD memastikan distribusi air bersih akan berlanjut hingga musim hujan tiba. Warga diminta hemat menggunakan air droping dan segera melaporkan titik kering baru ke RT/RW setempat agar penanganan bisa lebih cepat. (nau/lar)