Analisa · Ekonomi

IHSG dan Pasar Global 24 September 2026: Tekanan Yield Minimalkan Momentum

  • Wall Street menutup lebih rendah pada Rabu (23/9) karena minyak dan yield Treasury naik sedang pelaku pasar mengevaluasi komentar pejabat Iran yang menegaskan tidak akan menyerah kepada tekanan AS.
  • Di Eropa dan Asia, pasar menunjukkan percampuran.
  • Dampak pada IHSG diperkirakan campuran: tekanan yield atas dapat meminimalkan entusiasmo pada sektor pertumbuhan seperti teknologi dan konsumsi non-esensial, sementara perbankan mungkin tetap getah karena margemen bunga bersih (NIM) diproyeksikan membaik sejalan dengan kenaikan suku bunga.
  • Tiga saham Indonesia yang relevan: 1.
Ilustrasi mediasatujateng

Wall Street menutup lebih rendah pada Rabu (23/9) karena minyak dan yield Treasury naik sedang pelaku pasar mengevaluasi komentar pejabat Iran yang menegaskan tidak akan menyerah kepada tekanan AS. S&P 500 lonjakan 0,75%, Nasdaq 1,13%, dan Dow Jones 0,68% setelah data aktivitas bisnis AS menunjukkan ekspansi yang memperkuat harapan akan peningkatan suku bunga Fed pada Oktober. Di samping itu, minyak BDT naik hampir 4% setelah pidato Presiden Iran di PBB, memberikan dorongan pada sektor energi tetapi meningkatkan tekanan inflasi.

Di Eropa dan Asia, pasar menunjukkan percampuran. Indeks MSCI Asia ex-Japan turun 0,64% sementara Nikkei 225 justru naik 1,73% karena yen lemah dan optimisme tentang perdagangan AS-China. Pasar Australia jatuh lebih dari 1% setelah data inflasi menguatkan spekulasi tentang kebijakan moneter ketat. Secara keseluruhan, sentimen cenderung risk-off karena atasnya yield yang membuat instrumen berisiko kurang menarik, namun energi dan beberapa sektor defensif tetap bersinar.

Dampak pada IHSG diperkirakan campuran: tekanan yield atas dapat meminimalkan entusiasmo pada sektor pertumbuhan seperti teknologi dan konsumsi non-esensial, sementara perbankan mungkin tetap getah karena margemen bunga bersih (NIM) diproyeksikan membaik sejalan dengan kenaikan suku bunga. Sektor sumber daya juga dapat mendapat dukungan dari harga minyak yang stabil di atas level $100 per barrel. Jangka panjang, jika Fed benar-benar menaikkan suku bunga, aliran ke pasar emergent mungkin terhambat, tetapi fundamental domestik yang kuat masih menjadi pelindung.

Tiga saham Indonesia yang relevan:

  1. BBRI (Bank Rakyat Indonesia): sektor perbankan, thesis utama adalah pemulihan kualitas aset dan ekspansi kredit komersial yang kuat, katalis jangka pendek adalah laba semester I yang tumbuh 17,5% yoy serta potensi kembali masuknya investor asing karena NPL yang menurun, risiko utama adalah penurunan likuiditas sistem jika kredit melambat lanjutan.
  2. BBCA (Bank Central Asia): sektor perbankan, thesis berfokus pada basis kasar yang stabil dan fee-based income yang konsisten, katalis adalah naiknya suku bunga yang dapat meningkatkan margin pendapatan bunga tanpa mengganggu kualitas aset, risiko adalah valuasi yang relatif mahal jika pertumbuhan kredit tidak sejalan dengan ekspektasi.
  3. TLKM (Telkom Indonesia): sektor telekomunikasi, thesis berdasar pada penetrasi layanan digital dan infrastruktur 5G yang terus diperluas, katalis adalah penggunaan data yang masih tinggi serta efisiensi biaya dari transformasi digital, risiko adalah persaingan yang ketat dan regulasi yang dapat berubah cepat.

Sentimen berita 7 hari terakhir untuk ketiga saham tersebut menunjukkan: BBRI mendapat tekanan dari penjualan asing besar namun diperkuat oleh fundamental yang meliberkat; BBCA relatif netral dengan aliran kas yang konsisten; TLKM mendapatkan sentimen positif dari perkayaan layanan digital dan kontrak BUMN.

Berita tayang https://news.rsmoewardi.com/berita/ihsg-pasar-global-2026-09-24.html (am/lar)

Tulisan ini hanya berupa informasi pasar, bukan ajakan atau rekomendasi untuk membeli maupun menjual saham dan efek lain yang dibahas. Periksa silang setiap data, lalu lakukan riset lanjutan sendiri sebelum mengambil keputusan.

← Kembali ke beranda