IHSG dibuka pekan ini di level 6.241,89 setelah mengoreksi 3,09% pekan lalu, tertekan aliran dana asing konsisten keluar Rp3,15 triliun dan sentimen global risk-off dari kenaikan yield Treasury AS ke 5,24% serta harga minyak Brent naik ke USD 105 per barel. Perbankan besar menjadi beban utama — BMRI turun 4,2%, BBRI melemah 3,8%, BBCA koreksi 3,1%, BBNI anjlok 4,5% — menarik indeks ke bawah meski sektor komoditas (AMMN +8,4%, MDKA +4,7%, ADRO +5,1%) dan energi memberikan penopang parsial.
Berdasarkan Relative Rotation Graph (RRG) periode terbaru, sektor Keuangan (perbankan, multifinance, asuransi) berada di kuadran Weakening dengan momentum negatif yang belum menunjukkan tanda pembalikan. RS-Ratio di bawah 100 dan RS-Momentum menurun mengindikasikan underperformance berlanjut relatif IHSG. Bobot besar perbankan di indeks membuat sektor ini beban struktural selama arus asing tetap net sell.
Sebaliknya, sektor Barang Baku (AMMN, MDKA, ANTM, INCO, PTBA, ITMG) berpindah ke kuadran Leading — RS-Ratio di atas 100 dan RS-Momentum positif. Dorongan utamanya harga komoditas global (tembaga, emas, nikel, batubara) yang relatif stabil di level tinggi, serta narratif transisi energi yang mendukung permintaan logam jangka panjang. Sektor Konsumen Primer (ICBP, INDF, MYOR, UNVR) naik ke Improving dari Lagging pekan lalu, didukung daya beli domestik stabil dan valuasi defensif yang menarik saat risiko pasar meningkat.
Sektor Teknologi (GOTO, BUKA, DCII, EMTK) diam di Improving setelah keluar dari Lagging, dengan momentum harga yang mulai pulih pasca koreksi tajam Agustus namun volume masih moderat. Infrastruktur dan Properti (WIKA, PTPP, SMRA, CTRA, BSDE) bertahan di Lagging — RS-Momentum mulai mengempis tapi RS-Ratio jauh di bawah 100, menandakan bottoming yang perlahan. Energi (PGAS, MEDC, AKRA) di Weakening seiring koreksi harga minyak dari puncak, namun fundamental arus kas tetap kuat.
Dari sisi stock pick berbasis RRG, tiga emiten dari sektor Leading/Improving layak dipantau: AMMN (Barang Baku, Large Cap, posisi RRG: Leading) didukung ekspansi Aliran, fundamental tembaga/emas kuat, dan arus kas operasi positif; ICBP (Konsumen Primer, Large Cap, posisi RRG: Improving) memiliki daya pricing power, dividend yield menarik ~3,5%, dan ketahanan margin di tengah inflasi; ADRO (Pertambangan Batubara, Large Cap, posisi RRG: Leading) penerima manfaat langsung harga komoditas tinggi, valuasi diskontokan peers regional, dan manajemen biaya efisien.
Katalis minggu ini: data PCE AS Jumat malam, keputusan suku bunga BI Kamis (2/10), payrolls AS pekan depan, dan arus modal asing harian. Outlook jangka pendek IHSG condong sideways-bearish dengan bias koreksi terbatas di kisaran 6.150–6.350 selama tekanan perbankan dan yield global berlanjut. Strategi: akumulasi selektif pada sektor Leading/Improving (Barang Baku, Konsumen Primer, Pertambangan) saat pullback, kurangi eksposur Keuangan hingga RRG menunjukkan rotasi balik ke Leading. (ta/lar)
Tulisan ini hanya berupa informasi pasar, bukan ajakan atau rekomendasi untuk membeli maupun menjual saham dan efek lain yang dibahas. Periksa silang setiap data, lalu lakukan riset lanjutan sendiri sebelum mengambil keputusan.