Ekonomi

Pemprov Jateng Andalkan Teknologi Inseminasi Buatan untuk Dongkrak Produksi Susu

  • Pemerintah Provinsi Jawa Tengah mengandalkan teknologi inseminasi buatan untuk meningkatkan produksi susu sapi perah.
  • Dinas Ketahanan Pangan dan Pertanian Jawa Tengah menjelaskan, teknologi inseminasi buatan dipakai untuk memastikan genetika unggul sehingga dihasilkan sapi perah dengan produksi susu lebih tinggi sekaligus daya tahan lebih baik terhadap penyakit.
  • Selain penyediaan bibit unggul, program mencakup pemantauan kesehatan dan nutrisi ternak agar hasil panen susu optimal.
  • Sejumlah peternak di Boyolali yang telah mengikuti program melaporkan produksi susu rata-rata meningkat menjadi sekitar 15 liter per ekor per hari setelah program berjalan sekitar tiga bulan.

Pemerintah Provinsi Jawa Tengah mengandalkan teknologi inseminasi buatan untuk meningkatkan produksi susu sapi perah. Program dijalankan di sejumlah daerah sentra peternakan seperti Boyolali dan Sukoharjo, antara lain melalui pemberian bibit unggul kepada peternak. Harapannya, produksi susu di Jawa Tengah bisa naik signifikan dalam setahun ke depan.

Dinas Ketahanan Pangan dan Pertanian Jawa Tengah menjelaskan, teknologi inseminasi buatan dipakai untuk memastikan genetika unggul sehingga dihasilkan sapi perah dengan produksi susu lebih tinggi sekaligus daya tahan lebih baik terhadap penyakit. Peternak yang terlibat dalam program juga mendapatkan pelatihan serta pendampingan teknis.

Selain penyediaan bibit unggul, program mencakup pemantauan kesehatan dan nutrisi ternak agar hasil panen susu optimal. Pemerintah juga menyiapkan fasilitas bank semen di beberapa wilayah untuk menjamin ketersediaan bibit unggul secara berkelanjutan.

Sejumlah peternak di Boyolali yang telah mengikuti program melaporkan produksi susu rata-rata meningkat menjadi sekitar 15 liter per ekor per hari setelah program berjalan sekitar tiga bulan. Mereka berharap kenaikan ini mampu mendongkrak pendapatan sekaligus kesejahteraan peternak skala kecil.

Pemprov Jawa Tengah juga berkoordinasi dengan lembaga penelitian peternakan untuk terus memperbaiki proses inseminasi serta memperbarui bibit sesuai perkembangan genetika terkini. (red/lar)

← Kembali ke beranda